Halaman ini berisi kumpulan
cerita-cerita yang dibuat
dalam 100 kata.
Tidak lebih, tidak kurang.
Beberapa cerita ditulis dalam
Bahasa Indonesia,
tapi beberapa cerita
ditulis dalam Bahasa Inggris.
Silahkan memberi komentar
atau mengirimkan kepada kami
cerita 100 kata yang Anda tulis.
Jika kami menyukainya,
kami akan memuatnya di sini.
Kirim ke: hundred[dot]words[at]gmail[dot]com


The entries in this page
consist of 100 words stories.
Not more, and not less.
Some of the stories are written
in Bahasa Indonesia,
the country where we come from,
but some are written in english.
Feel free to give your comments
or send us one of your own
100 words stories.
If we like it, we will post it here.
Send them to: hundred[dot]words[at]gmail[dot]com



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons License.


   

<< December 2014 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31



RULES:

Entries must consist of 100 words.

Entries could take form as prose or poetry, BUT they have to tell a story.
Please only submit your own works. We will not check on this, we trust you are all intelligent reasonable people.

Cursing is fine, as long as it is required by the story. But we won't like to have an entry consisting of curse words alone.

No matter how well we acknowledge sex as something humans do, but we will not tolerate erotica or porn stories. We want really young people to be able to read this blog.

No entries shall have StICky CaPS! We simply loathe them!

We have rights to choose which story we would like to put here. The only rule for this is: if we all like it, we'll post it.

Whenever we put up your story, you will be rightfully credited, as long as you give us the sufficient information about yourself.

We have rights to delete your comments if we think they're not contributing to the ongoing discussion.




BEBERAPA ATURAN:

Seluruh karya yang dikirim harus ditulis dalam 100 kata, tidak lebih dan tidak kurang.

Karya bisa berbentuk puisi atau prosa, TAPI harus tetap memiliki satu cerita.

Kami mohon kesadarannya untuk hanya mengirimkan karya kamu sendiri. Kami tidak akan menghargai plagiarisme. Kami tidak akan mampu mengecek satu persatu karya yang dikirimkan, tapi kami percaya bahwa Anda semua adalah manusia-manusia yang bertanggung jawab.

Menggunakan kata-kata keras diperbolehkan, asal memang dibutuhkan untuk mendukung cerita. Tapi kami tidak akan memuat cerita yang hanya berisi sumpah serapah.

Walaupun sex adalah sesuatu yang sangat manusiawi, kami tidak akan memuat cerita porno atau erotis. Kami ingin website ini bisa dibaca oleh anak segala usia.

Tolong jangan menulis dengan StICky CaPS! Tidak enak dibacanya.

Kami punya hak penuh untuk memutuskan cerita apa yang akan kami muat di sini. Satu-satunya aturan untuk ini adalah: kalau kami semua suka, kami akan muat.

Setiap kami memuat karya Anda, kami akan memberi kredit terhadap karya yang sesuai dengan apa yang Anda berikan kepada kami.
Kami punya hak untuk menghapus komentar-komentar yang kami rasa tidak memberikan kontribusi terhadap diskusi yang sedang berlangsung.




KAMI adalah...
WE are...

aladdinsane
erratic
monkecat
rangga
sok tahu
vulva









If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Monday, March 05, 2007
Untitled

COULD YOU SHOW ME THE TIME, PLEASE?

Said the form beside me. It had the head of a squid, leathery bat-like wings, and smelled like a thousand and one abattoirs.

'Uh, sure,' I said, not exactly sure how to respond and even how the thing spoke with its tentacle covered beak.

'It's 10:45.'

WHAT MONTH?

'Er, October.'

YEAR?

'2006.'

DAMN.

It sighed. And I felt all the despairs of the universe.

I AM MUCH TOO EARLY.

Curious, I asked: 'Too early for what?'

ARMAGEDDON. DAMN YOU, NYARLATHOTEP!

And it's gone. And I swore I'd never set foot on Innsmouth again.

 

with immense apology and gratitude to H. P. Lovecraft, August Derleth and Clark Ashton Smith.

Posted at 08:23 pm by aladdinsane
(5) voices

Tuesday, December 26, 2006
Insiden Pagi Hari

“Mane die?”

“Sakit. Gusinye bengkak.”

“Kenape?”

“Tauk.”

 

Aku menyeruak masuk ruangan yang hanya berpintukan selembar kain itu, kulihat dia memang terbaring saja sambil merintih memegang mulutnya. Saat kutanya kenapa bicaranya tidak jelas. Di sela rintihannya aku hanya bisa menangkap kata-kata bego, gigi dan putih, selebihnya sama sekali tidak dapat dimengerti, tapi kuperhatikan dia kerap menunjuk giginya dan kamar mandi.

 

Sebuah pemandangan ganjil menyambut pandanganku di kamar mandi. Sebatang sikat gigi yang baru saja terpakai dan setengah bungkus kecil deterjen pemutih pakaian yang tergeletak di sebelahnya.

 

Sambil tersenyum geli, kuendus sikat gigi itu, dan, seperti dugaanku, bau deterjen mengisi lubang hidungku…


Posted at 04:34 pm by aladdinsane
your voice

Thursday, December 07, 2006
Like Mother, Like Daughter

Mom threw me a gun. I stared at her in horror.

"Mary-Jane," she said "You are a woman. A woman is a mother. One day you would have to protect your children. Be brave and run!"

I ran without looking back, even when a shot instantly killed her.

Today I look at the gun in my hand, before throwing it to my only daughter.
She stares at me in horror.
I told her the exact thing as my mom did.

By the time she went running, they broke in.
A gun shot followed with mom's dying silhouette flashes upon me.



submitted by: Iphien

Posted at 12:14 pm by One Hundred Words
(2) voices

Untitled

She took out a box of cigarettes that belonged to him.

Lighted one up and closed her eyes.

She remembered how great he looked.

His scent.

As she inhaled a deep puff, her lacquered nails hid her new found vice.
Comfort knowing that it covers yellowing stains from smoking heavily, lately.

She felt like the little match girl.

When she lights his fags, it would bring her to the glory days of their time together.

"Fuck," she would curse as she reached its end. It wasn’t real.
What was, though, is her empty apartment, filled with her loneliness, and her.



submitted by: Sophie Wong

Posted at 12:12 pm by One Hundred Words
(5) voices

Friday, December 01, 2006
Mrs. Morrison's Tale

I would never understand what happened at that time.

 

I mean there I was, just strolling by the city lake, when suddenly this…this vampire swooped down and--well, of course it was night! Have you ever seen a vampire by day?

 

So, anyway, this vampire came from God knows where, called me a conniving thief, punched me in the nose and snatched the brooch that I bought from a pawn shop that morning. And it was such a nice brooch, too; it looked like an antique heirloom.

 

Cape? Oh, no, he didn’t wear any. He clenched it in his hand.


Posted at 04:48 pm by aladdinsane
your voice

Wednesday, November 22, 2006
Debat Sunyi Dini Hari

Kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, kamu akan baik-baik saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Kamu harus kuat. Tidak peduli sepedih apa pun sakit yang kamu rasakan. Kamu tidak punya pilihan.

Sejak awal kamu sudah tahu, kalau dia telah memilih orang lain. Dia memang bukan milikmu. Sialnya, jangan-jangan takdir juga berkata begitu.

Kamu juga tidak bisa pergi, karena sudah pula berjanji. Lagipula, bukankah sahabat sejati takkan pernah benar-benar pergi? Bukankah mereka akan selalu terpatri di dalam hati?

Jangan pernah membiarkan cinta merusaknya.

Lalu, kenapa kamu selalu terjaga hingga pagi, setiap mendengar cerita pertengkarannya dengan kekasih hati?



submitted by: Ruby Astari

Posted at 01:10 pm by One Hundred Words
(2) voices

Dompet

Matahari Jakarta mulai menyengat.
Aku bergelantungan bercampur peluh di Metromini.
Berangkat ke kantor dengan tergesa.
Sarapan dan mengecup kening istriku kulewatkan.

Kuberdiri dekat pintu.
Meningkatkan kewaspadaan.
Nampak empat orang dengan tampang mencurigakan.
Kantorku sudah dekat. Aku bersiap untuk turun.

Deg...jantungku berdegup kencang.
Kuraba kantong belakangku kosong.
Aku menoleh ke belakang. Orang yang tadi kuperhatikan
mencurigakan memasang mimik tidak bersalah.
Tanpa basa- basi kuhajar orang itu penuh kesal.
Darah segar mengucur dari hidungnya.
“Tidak Pak! Saya bukan copet," laki-laki itu
mengaduh.

Kuputuskan untuk pulang cepat.
Uang cicilan rumah raib sudah.
Depan pintu, senyuman istriku menyambut.
“Sayang, ini dompetmu ketinggalan!!!”


submitted by: Ifoeng

Posted at 01:06 pm by One Hundred Words
your voice

Monday, November 20, 2006
Perkawinan

… Sophia Latjuba terbalut T-shirt basah… Uma Thurman di film Kill Bill dalam kostum Bruce Lee… liukan tubuh Shakira di video terbarunya… bibir Scarlett Johansson yang menganga… Carmen Electra berlari telanjang dada… perut Gwen Stefani di atas panggung mengkilat berkeringat… dada Pamela Anderson yang subur… Britney Spears dan Christina Aguilera dalam pertandingan gulat lumpur… Damn!

"Mas…? Mas…?"
"Maafkan aku, sayang."
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu capek."
Lunglai. Aku menunduk. Tak berani menatap matanya.
"Tidurlah, Mas. Besok kita coba lagi."
Menghadap tembok kubalik badanku, kutarik selimut sampai ke bahu. Mataku terpejam, hanya telingaku yang samar menangkap isak tertahan istriku, di balik punggungku.



submitted by: riz

Posted at 03:45 pm by One Hundred Words
(3) voices

Friday, November 17, 2006
Wajah di Balik Jendela

Sudah sebelas hari berlalu sejak pertama Aku memandanginya.
Dari balik jendela.

Dan setiap kali dia membalikkan tubuhnya,
berusaha mencari sebab perasaan gundah yang senantiasa membayangi,
Aku akan bersembunyi di balik tirai.
Meninggalkan sekilas bayangan gaun bercorak bunga, sekelebat rambut hitam panjang; membuat keningnya berkerut.

Namun hari ini, Aku tidak ingin bersembunyi lagi.
Akan kubuka tirai lebar-lebar dan tersenyum semanis mungkin.

Lalu saat dia berbalik,
Saat matanya tepat menatap mataku,
segalanya menjadi jelas baginya

Wajah di balik jendela itu wajahku
Gaun berbunga itu gaun kesayanganku
dan rambut hitam panjang ini, satu-satunya yang tersisa dariku.

Teriakannya serta merta menggema, memekakkan telinga.

"HANTUUUUUUUUUUUUU!!"



submitted by: Elvin

Posted at 04:29 pm by One Hundred Words
(2) voices

Wednesday, November 15, 2006
Dongeng

Pada suatu hari, di sebuah gubuk tua tinggallah seorang kakek dengan seorang cucunya, seorang anak yang sehat dan rajin bekerja membantu Kakek di ladang.

Setiap malam, mereka berkumpul di depan perdiangan dan Kakek akan mulai bercerita pada cucunya.

Ceritanya begini:

Pada suatu hari, di sebuah gubuk tua tinggallah seorang kakek dengan seorang cucunya, seorang anak yang sehat dan rajin bekerja membantu Kakek di ladang.

Setiap malam, mereka berkumpul di depan perdiangan dan Kakek akan mulai bercerita pada cucunya.

Ceritanya begini:

Pada suatu hari, di sebuah gubuk tua tinggallah seorang kakek dengan seorang cucunya, seorang anak yang sehat dan rajin bekerja…


Posted at 05:34 pm by aladdinsane
(2) voices

Next Page