Halaman ini berisi kumpulan
cerita-cerita yang dibuat
dalam 100 kata.
Tidak lebih, tidak kurang.
Beberapa cerita ditulis dalam
Bahasa Indonesia,
tapi beberapa cerita
ditulis dalam Bahasa Inggris.
Silahkan memberi komentar
atau mengirimkan kepada kami
cerita 100 kata yang Anda tulis.
Jika kami menyukainya,
kami akan memuatnya di sini.
Kirim ke: hundred[dot]words[at]gmail[dot]com


The entries in this page
consist of 100 words stories.
Not more, and not less.
Some of the stories are written
in Bahasa Indonesia,
the country where we come from,
but some are written in english.
Feel free to give your comments
or send us one of your own
100 words stories.
If we like it, we will post it here.
Send them to: hundred[dot]words[at]gmail[dot]com



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons License.


   

<< March 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31



RULES:

Entries must consist of 100 words.

Entries could take form as prose or poetry, BUT they have to tell a story.
Please only submit your own works. We will not check on this, we trust you are all intelligent reasonable people.

Cursing is fine, as long as it is required by the story. But we won't like to have an entry consisting of curse words alone.

No matter how well we acknowledge sex as something humans do, but we will not tolerate erotica or porn stories. We want really young people to be able to read this blog.

No entries shall have StICky CaPS! We simply loathe them!

We have rights to choose which story we would like to put here. The only rule for this is: if we all like it, we'll post it.

Whenever we put up your story, you will be rightfully credited, as long as you give us the sufficient information about yourself.

We have rights to delete your comments if we think they're not contributing to the ongoing discussion.




BEBERAPA ATURAN:

Seluruh karya yang dikirim harus ditulis dalam 100 kata, tidak lebih dan tidak kurang.

Karya bisa berbentuk puisi atau prosa, TAPI harus tetap memiliki satu cerita.

Kami mohon kesadarannya untuk hanya mengirimkan karya kamu sendiri. Kami tidak akan menghargai plagiarisme. Kami tidak akan mampu mengecek satu persatu karya yang dikirimkan, tapi kami percaya bahwa Anda semua adalah manusia-manusia yang bertanggung jawab.

Menggunakan kata-kata keras diperbolehkan, asal memang dibutuhkan untuk mendukung cerita. Tapi kami tidak akan memuat cerita yang hanya berisi sumpah serapah.

Walaupun sex adalah sesuatu yang sangat manusiawi, kami tidak akan memuat cerita porno atau erotis. Kami ingin website ini bisa dibaca oleh anak segala usia.

Tolong jangan menulis dengan StICky CaPS! Tidak enak dibacanya.

Kami punya hak penuh untuk memutuskan cerita apa yang akan kami muat di sini. Satu-satunya aturan untuk ini adalah: kalau kami semua suka, kami akan muat.

Setiap kami memuat karya Anda, kami akan memberi kredit terhadap karya yang sesuai dengan apa yang Anda berikan kepada kami.
Kami punya hak untuk menghapus komentar-komentar yang kami rasa tidak memberikan kontribusi terhadap diskusi yang sedang berlangsung.




KAMI adalah...
WE are...

aladdinsane
erratic
monkecat
rangga
sok tahu
vulva









If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Wednesday, November 08, 2006
Teman Tidur

“Bapak tahu ‘kan saya mau tidur?”
Dia mengangguk.
“Bapak tahu ‘kan besok saya harus bangun pagi?”
Dia mengangguk lagi.
“Bapak tahu ‘kan saya sudah baca doa?”
Dia masih mengangguk.
“Bapak tahu ‘kan apa fungsi Al Qur’an ini di samping tempat tidur saya?”
Dia kembali mengangguk.
“Bapak tahu ‘kan saya tidak tahu apa yang terjadi sama Bapak di sini dan saya tidak mau

tahu?”
Lagi-lagi dia mengangguk.
“Lalu kenapa Bapak masih menampakkan diri?”
Dia hanya menatap kosong. Aku pun mendengus kesal dan memaksa diri memejamkan mata. Mencoba

mengacuhkan kehadirannya yang pucat berdiri di sudut kamarku, menghisap cerutu dengan asap

tak berbau.



submitted by: riz

Posted at 11:54 am by One Hundred Words
your voice

Thursday, November 02, 2006
Suatu Sore di Suatu Saat

"Ma! Aku capek! Aku bosan!!!" teriak Eko.
”Mama dengerin aku gak sih?”

Mama kenapa diam? Jawab, Ma!

"Ma, marah ya? Maafin aku. Eko gak sengaja!"

Aku nggak sengaja, Ma.

"Mama sakit ya?" tanya Eko.

Mengapa Mama diam saja, aku bingung.

"Mama, Eko nggak bermaksud bikin Mama marah. Maaf ya?" Eko masih memohon.

Jangan pukul aku ya, Ma, kalau sudah bangun. Aku nggak mau Mama marah!

"Mama bangun! Pisaunya udah dicabut kok. Eko nggak sengaja, Mama. Ini pisaunya Eko balikin ya. Atau Eko taruh di dapur 'aja? Mama jawab dong!!!" tangis Eko memohon.

Aku kan hanya becanda, Ma!

"Mama bangun dong!"



submitted by: Letitisia

Posted at 05:27 pm by One Hundred Words
your voice

Tuesday, October 31, 2006
Final Days

Day 5

 

The rumors were true, we met them today. They shambled jerkily towards us. 'Rigor mortis caused that,' said Geoffrey. We ran away and found this shelter.

 

 

Day 6

 

Geoff is dead. He was always the slowest, that poor bastard. Ten of them devoured him.

 

 

Day 7

 

Returned to bury Geoff, or what remained of him. Recognized his nose. He bit me, caught me by surprise, never thought he'd be a twitcher. Damn.

 

 

Day 9

 

Arms numb. Met more survivors. Their heads shining. Nice lights. Bright. Take darkness away. Hungry.

 

 

Day 10

 

Shining head stop hunger. Must get mo--


Posted at 02:11 pm by aladdinsane
(2) voices

Thursday, October 12, 2006
You Jump I Jump!

Feet bound up on the 43-meters tower, about to put my life on a single rubber rope, I've never felt so close to God.

Fuck adrenaline rush. It was pure fear. Eyes shamelessly closed, my high-pitched squeak can be heard from miles off as I went down. I was almost in tears when finally earth righted itself  and I could put my feet firmly on the ground.

The demons of curiosity sated and once was more than enough.

Then this stupid girl ran towards me, shouting with excitement, "Increeeeedible! Let's do it again!"

I cursed that damned thing called pride.



Created by: Monkecat

Posted at 05:26 pm by One Hundred Words
your voice

Monster

Dia masih mengejar. Aku tahu itu. Entah bagaimana aku bisa merasakannya.

Sialan! Bagaimana mungkin dia masih bisa bergerak dengan luka seperti itu? Aku yakin pisau itu menembus jantungnya.

Lantai dua. Hanya tinggal itu harapanku. Tinggal sedikit lagi. Harus terus berlari.

Dia masih ada di belakangku.

Aku terpana. Mana pintunya? Tidak mungkin aku terperangkap. Ini rumahku sendiri!

Suara langkah. Darahku serasa berhenti mengalir. Dingin. Aku bisa mendengar jantungku berdegup semakin kencang. Dia ada di

sini. Aku bisa mendengar nafasnya. Perlahan aku membalik badan. Sekujur tubuhku bergetar hebat. Dinding terasa dingin di

punggungku.

Tuhan, aku belum mau mati!

Dia membuka mulutnya.

"Ayah?"



submitted by: boxybiru

Posted at 02:40 pm by One Hundred Words
your voice

Tuesday, October 10, 2006
Jatuh

Tanganku menggapai-gapai, mencoba mencari pegangan.
Tak satupun yang bisa ku raih.
Dinding tebing begitu licin. Jangankan pohon, tonjolan batu saja tak ada.
Mulus dan licin.
Angin panas deras menerpa. Semakin jauh aku jatuh, semakin panas terasa.
Habislah riwatku kali ini.
Tidak ada jalan keluar.
Dinding licin semakin cepat berkelebat.
Aku pasrah, dan menutup mata.
Sampai sebuah permukaan lembut menyambut punggungku.
Aku seperti mendarat di kapas. Lembut sekali.
Aku membuka mata, seorang lelaki tampan mengulurkan tangannya, membantuku berdiri.
"Selamat datang di neraka… jangan khawatir, kamu akan disiksa di sini untuk selamanya."
Nun jauh di depan sana, aku melihat api berkobar ganas.



Dari stimulasi tanggal 9-22 Oktober 2006.

Posted at 08:51 pm by soktahu
(3) voices

Pesan Berantai

"Sesungguhnya, semua manusia itu bersaudara, apapun agama atau kepercayaannya. Karena itu, janganlah kamu menyakiti manusia lain, apapun alasannya. Ingat itu!"

"Sesungguhnya semua manusia itu bersaudara, apalagi kalau satu agama atau kepercayaan. Karena itu, janganlah kamu menyakiti manusia lain. Ingat itu!"

"Sesungguhnya semua manusia yang satu agama atau kepercayaan itu bersaudara. Karena itu, janganlah menyakiti manusia lain yang seagama. Ingat itu!"

"Sesungguhnya hanya mereka yang memeluk agama kita yang bersaudara. Manusia lainnya bukan saudara kita. Disakiti juga tak apa. Ingat itu!"

"Sesungguhnya, pemeluk agama kita yang berdoanya seperti ini bersaudara. Yang berbeda cara, apalagi agama, jangan dibiarkan! Hancurkan semua! Ingat itu!"

Posted at 05:56 pm by soktahu
(3) voices

Duel di Pulau Ganryu

Tanpa kusadari sesungguhnya aku melatih tubuh dan jiwaku hanya untuk duel yang satu ini. Duel di pulau Ganryu.

"AKHIRNYA KAU DATANG JUGA!!" teriaknya, keras seperti biasa.

Kutatap matanya dalam-dalam.

Ia melaju ke arahku. Aku pun menyambutnya, teriakanku membahana di pulau kecil itu.

Ia menyabetkan Galah Pengering, aku melompat. Tinggi. Melampaui tubuhnya dan mendarat di belakangnya.

Dan terus berlari.

"Sialan!" umpatku, "Jangan sekarang!"

Kusabet kakiku dengan pedang kayu, "BERHENTI!" bentakku, tapi mereka tetap berlari.

"Balik! Musuhmu di sana! Nurut dong!" pintaku. Mereka tetap tidak mau menurut.

"MUSASHI! PENGECUT!" kudengar teriaknya lamat-lamat.

Kupejamkan mataku, menahan air mata malu.

"Kaki sialan!" umpatku pedih.


Posted at 12:47 pm by aladdinsane
your voice

Monday, October 09, 2006
Biru

Aku berdiri terdiam memandang dirinya.

Wanita itu duduk sendiri dengan tenang di tengah padang rumput yang kelam. Langit terlihat muram, dengan sisa-sisa awan hitam bergantung malas. Dia termenung memikirkan sesuatu, tersenyum pahit memandang kusamnya alam.

Apa yang sebenarnya ada di hatinya? Mungkinkah sebuah perasaan dilematis yang menjalari sekujur tubuhnya? Sebuah cinta yang hilang dari asanya?

Aku ingin merengkuhnya erat dan aku tahu hanya aku yang bisa mengembalikan kebahagiaannya.

Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan biru langitnya.

Aku mengangkat teleponku.

“Halo, ya, ini saya lagi. Bisa tolong kirimkan dua tube akrilik warna light blue dan cyan? Terima kasih.”


created by: Rangga

Posted at 02:26 pm by One Hundred Words
your voice

Pertengkaran

Aku mendengar lamat-lamat suara mereka dibalik dinding tipis ini.

“Ini salah kamu semua, kenapa kamu memaksaku melakukannya?”

“Jadi semua salahku? Siapa yang punya ide untuk menghabiskan akhir pekan di villa ayahmu, hah?”

“Aku hanya ingin bersama kamu, bukan berarti kita harus bercinta gila sampai pagi!”

“Kamu juga yang tidak berhenti menciumiku, jalang!”

“Kamu kan bisa pakai kondom, tolol! Aman kata kamu? Bisa kamu tarik tepat waktu? Bajingan!”

“Bukannya kamu juga yang menolak aku pakai itu? Hilang rasanya, kata kamu? Siapa yang tolol, sekarang?”

“Lalu kita apakan ini, hah?”

Dan kalian ingin tahu kenapa aku tidak ingin keluar dari rahim ini.


created by: Rangga

Posted at 02:23 pm by One Hundred Words
your voice

Previous Page

Next Page