Halaman ini berisi kumpulan
cerita-cerita yang dibuat
dalam 100 kata.
Tidak lebih, tidak kurang.
Beberapa cerita ditulis dalam
Bahasa Indonesia,
tapi beberapa cerita
ditulis dalam Bahasa Inggris.
Silahkan memberi komentar
atau mengirimkan kepada kami
cerita 100 kata yang Anda tulis.
Jika kami menyukainya,
kami akan memuatnya di sini.
Kirim ke: hundred[dot]words[at]gmail[dot]com


The entries in this page
consist of 100 words stories.
Not more, and not less.
Some of the stories are written
in Bahasa Indonesia,
the country where we come from,
but some are written in english.
Feel free to give your comments
or send us one of your own
100 words stories.
If we like it, we will post it here.
Send them to: hundred[dot]words[at]gmail[dot]com



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons License.


   

<< September 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30



RULES:

Entries must consist of 100 words.

Entries could take form as prose or poetry, BUT they have to tell a story.
Please only submit your own works. We will not check on this, we trust you are all intelligent reasonable people.

Cursing is fine, as long as it is required by the story. But we won't like to have an entry consisting of curse words alone.

No matter how well we acknowledge sex as something humans do, but we will not tolerate erotica or porn stories. We want really young people to be able to read this blog.

No entries shall have StICky CaPS! We simply loathe them!

We have rights to choose which story we would like to put here. The only rule for this is: if we all like it, we'll post it.

Whenever we put up your story, you will be rightfully credited, as long as you give us the sufficient information about yourself.

We have rights to delete your comments if we think they're not contributing to the ongoing discussion.




BEBERAPA ATURAN:

Seluruh karya yang dikirim harus ditulis dalam 100 kata, tidak lebih dan tidak kurang.

Karya bisa berbentuk puisi atau prosa, TAPI harus tetap memiliki satu cerita.

Kami mohon kesadarannya untuk hanya mengirimkan karya kamu sendiri. Kami tidak akan menghargai plagiarisme. Kami tidak akan mampu mengecek satu persatu karya yang dikirimkan, tapi kami percaya bahwa Anda semua adalah manusia-manusia yang bertanggung jawab.

Menggunakan kata-kata keras diperbolehkan, asal memang dibutuhkan untuk mendukung cerita. Tapi kami tidak akan memuat cerita yang hanya berisi sumpah serapah.

Walaupun sex adalah sesuatu yang sangat manusiawi, kami tidak akan memuat cerita porno atau erotis. Kami ingin website ini bisa dibaca oleh anak segala usia.

Tolong jangan menulis dengan StICky CaPS! Tidak enak dibacanya.

Kami punya hak penuh untuk memutuskan cerita apa yang akan kami muat di sini. Satu-satunya aturan untuk ini adalah: kalau kami semua suka, kami akan muat.

Setiap kami memuat karya Anda, kami akan memberi kredit terhadap karya yang sesuai dengan apa yang Anda berikan kepada kami.
Kami punya hak untuk menghapus komentar-komentar yang kami rasa tidak memberikan kontribusi terhadap diskusi yang sedang berlangsung.




KAMI adalah...
WE are...

aladdinsane
erratic
monkecat
rangga
sok tahu
vulva









If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Monday, October 09, 2006
Jaguar

Oaaahhh…

Dia meregangkan badannya dengan nikmat. Melirik ke jam yang melingkar di pergelangannya. Setengah dua siang. Sebentar lagi.

Ia memutar jadwal virtual di otaknya. Sebentar lagi jemput Jenny di kampus, kalau semua sesuai rencana.  Perencanaan yang baik itu penting. Jenny nggak perlu tahu ada Viona, Viona nggak perlu terganggu oleh Mira. Dan seterusnya dan seterusnya.

Salah siapa kalau cewek selalu tergiur sama Jaguar ini, pikirnya. Kalau bau jok kulit lebih ampuh dari wangi parfum Bvlgari.

Lamunannya terusik oleh pintu belakang yang dibuka. “Man, pulang sekarang. Habis itu kamu jemput bapak di kantor ya”.

Right on time, senyumnya. Hidup memang menyenangkan.


created by: Monkecat

Posted at 02:17 pm by One Hundred Words
your voice

Sunday, October 08, 2006
Children are Starving

"I want to go where children are starving. Namibia or Kenya perhaps," blond Ingela said.

"It is not just hunger, dear Ingela. They’re orphaned by war and plagues that we adult create for them," said my other classmate, red-haired Marrissa. "I will go where the number of HIV infected people is the highest," she added confidently.

I could not think of any places where we can do our field research. Where we can save children or prevent them from being orphan, except the thought of my autistic son with his starving brain back home. Where he needs me the most.


Posted at 02:47 pm by Kay's Mom
your voice

Saturday, October 07, 2006
Momentum

Kupandang wajahnya yang merah. Wajah yang selalu kulihat setiap hari selama hidupku. Wajah itu selalu ramah. Ia selalu tersenyum, kadang bergerak-gerak melucu. Dan aku pun terpingkal-pingkal, sampai kakiku menendang-nendang.

Kupandangi wajah itu. Aku tersenyum. Inilah saatnya. Inilah saatnya aku mengungkapkan perasaanku padanya. Kubuka mulutku untuk bicara.

Belum sempat kuucap satu kata, wajah itu mengernyit dan menghimpit. Aku merasa sesak. Aku berusaha menenangkannya. Tapi dia terus mendorongku.

Tiba-tiba kurasakan diriku meluncur perlahan melalui lubang yang tak jelas muncul dari mana.

Wajah itu makin jauh. Aku berteriak kuat-kuat. Aku menangis.

"Cintaku! Aku akan terus mencari jalan kembali padamu!"

Dan aku pun lahir.



created by: erratic
Dari stimulasi tanggal 25 September – 8 Oktober 2006

Posted at 05:45 pm by erratic
your voice

Ulah Bapak

Aku benci bapakku.
Dia melakukan apa saja yang dia bisa untuk memaksaku melakukan hal-hal yang tidak aku sukai.
Mengajakku bicara ketika aku ingin tidur.
Menggodaku ketika aku bermain.
Memaksaku mendengarkan musik yang aku tidak sukai.
Bayangkan saja, aku dipaksa mendengarkan musik klasik! Mozart!
Beri aku Ikke Nurjannah, aku bahagia, bukan Mozart!
Bapakku memang sudah gila.
Sekarang, lihat apa yang dia coba lakukan padaku. Dia memaksaku untuk keluar dan bermain di tengah dinginnya malam.
Bahkan dia membuang selimutku jauh-jauh. Menggelitik. Menarik. Berteriak.
Bukan itu saja, bapak sampai mengundang orang lain untuk membantuku keluar dari kehangatan rahim Ibu. Aku benci bapakku.



Dari stimulasi tanggal 25 September – 8 Oktober 2006


Posted at 05:28 pm by soktahu
(2) voices

Percaya Atau Tidak

"Hipnotis? Hahaha…. Mana ada!? Hahaha…."
"Kamu tidak percaya aku bisa?"
"Bah! Pada hipnotis saja aku tak percaya, apalagi kalau ada yang mengaku-aku bisa melakukannya! Bwahahaha!!!"
"Tapi aku bisa melakukannya! Mau aku coba? Berani kamu jadi kelinci percobaannya?"
"Boleh! Tapi kalau kamu gagal, dan kamu pasti gagal, jangan pernah lagi menyinggung omong kosong macam hipnotis ini di hadapanku!"
"OK lah! Ayo, sekarang kamu tutup mata kamu! Dengarkan ketukan jariku di meja!"
"Hahaha... ayo hipnotis aku… Hahaha…."
 "Kamu diam dulu! Lima ketukan saja! Diam!"
Tik
Tok
Tik
Tok
Tik
"Hahaha! Mana? Sudah lima ketu… Sam? Sam? Aku ada di mana? Sam?"

Posted at 05:08 pm by soktahu
your voice

Afterthought

Everything was dark. I reached out my hand, trying to feel my way. I can feel nothing. I saw a spot of light far away. I tried to reach it. My legs felt heavy. Why am I here?

Suddenly the tunnel shook. I was thrown to the side, and fell into the light. I heard someone called my name. I opened my eyes. It was the nurse. I remember everything now.

I looked around and saw the bandages around my chest.

"In a week, you'll have the body you wanted!" said she, annoyingly cheerful.

Is this really what I want?



created by: erratic



Posted at 04:23 pm by erratic
your voice

Monday, October 02, 2006
Pohon Tua Di Atas Bukit

Aku memandang foto itu untuk kesekian kalinya hari ini. Foto hitam-putih sebuah pohon tua yang besar di atas bukit. Berdiri tegar tanpa tergoyahkan oleh angin badai sekalipun. Daun-daunnya yang rimbun memberikan keteduhan walau seterik apapun matahari bersinar.

Aku sendiri yang mengambil foto itu tahun lalu. Pohon itu mengingatkan aku akan suamiku. Laki-laki yang tetap tegar berdiri walau sekeras apapun masalah menimpanya. Laki-laki yang dengan kedua tangannya akan memeluk dan menenangkanku setiap kali aku terjatuh. Senyum yang selalu dia lemparkan sebelum berangkat ke kantor. Ya, pohon itu mengingatkanku padanya.

Di bawah pohon itu aku menguburnya bersama dengan perempuan sundal keparat itu.


submitted by: boxybiru

Posted at 09:44 pm by One Hundred Words
your voice

Bilang Sama Dia!

"Pasti dia lagi sama perempuan itu lagi kan? Sudahlah, gak usah  bohong! Lo gak usah nutup-nutupin lagi. Gua udah tahu semuanya!"

Aku cuma diam sementara suara di seberang sana membuat kupingku berkeringat.

"Kalau memang begini caranya untuk apa dia pake ngelamar segala? Sok pake nentuin tanggal, cari gedung segala macem! Bullshit semuanya!"

Untuk ketiga kalinya aku memindahkan handphone ke telinga yang lain.

"Bilang sama sahabat lo itu, mendingan batalin semuanya, pergi saja sana sama pelacur itu!"

Tuuut.

Aku menghela napas dan memandang langit-langit.

"Maafin pacar gue ya," ujar sebuah suara lirih. Aku memandang bibir darimana suara itu berasal, dan mengecupnya.


submitted by: boxybiru

Posted at 09:41 pm by One Hundred Words
your voice

Sunday, September 24, 2006
Sehabis pasar malam

Anak perempuan yang cantik. Kulitnya putih, dengan rambut ikal sebahu.
Sayang bajunya kotor, penuh dengan noda kehitaman. Bacin pula baunya.
Aku bertabrakan dengannya di pasar malam, lima jam yang lalu.
Dan sekarang, jam dua belas malam, anak itu berdiri di hadapanku.
Dahinya mengernyit, seperti menahan sakit.
“Kamu kenapa?”
“Saya lapar Oom….”
“Loh? Orang tuamu mana?”
“Sudah meninggal Oom….”
“Kamu sebatang kara? Tidak punya saudara?”
“Sudah habis semua Oom….”
“Jadi, kamu tinggal sendiri?”
“Iya Oom… dan saya kelaparan….”
“Aduh… kasihan sekali… kamu mau makan apa anak cantik?”
Dia tidak menjawab. Anak perempuan yang cantik itu hanya menyeringai, memamerkan taringnya yang panjang.


Posted at 06:32 pm by soktahu
your voice

Kekasih

Aku terdiam. Mataku tak bisa menatapnya. Aku sangat mencintainya. Tanpa pamrih, tulus dan ikhlas. Dia hanya duduk di hadapanku sambil meminum anggurnya.

Dia tersenyum kepadaku, senyum yang selalu terpatri di kepalaku dari sejak awal kami bertemu. Senyum yang selalu menggodaku disaat aku sendiri dalam kelamnya malam.

Aku tahu semua ini salah, aku tahu aku tidak akan bisa mendapatkan dirinya. Tapi aku hanyalah seorang laki-laki, yang penuh dengan keinginan sebagaimana semunya itu.

Dia memegang tanganku dengan lembut. Oh, jarinya yang halus, yang selalu membelaiku dengan kasih sayang saat kami selesai bercinta.

Dia melirik telepon genggamnya.

“Aku harus pulang, istriku menunggu.”


by: Rangga


Posted at 05:54 pm by One Hundred Words
your voice

Previous Page

Next Page